Notification

×

Iklan

Iklan

Tradisi Beruah, Kearifan Lokal Masyarakat Belitung Timur yang Terus Dilestarikan

Minggu, 15 Februari 2026 | Februari 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-15T12:32:30Z


Belitung Timur, SisnetRadio.com 
– Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi beruah masih tetap hidup dan dijaga oleh masyarakat Belitung Timur sebagai bagian dari kearifan lokal yang sarat nilai spiritual dan sosial.

Beruah merupakan tradisi adat masyarakat Melayu Belitong yang dilaksanakan dalam bentuk doa bersama dan selamatan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus mempererat hubungan silaturahmi antar keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar.

Di wilayah Belitung Timur, tradisi beruah masih lazim dilakukan dalam berbagai momentum penting, seperti menjelang bulan Ramadhan, syukuran rezeki, pindah rumah, setelah panen kebun, hingga dalam rangka memperingati hari-hari tertentu yang dianggap bermakna bagi keluarga.

Pada salah satu kegiatan beruah yang berlangsung di wilayah Belitung Timur, tim Radio Sisnet berkesempatan menghadiri langsung pelaksanaan tradisi tersebut. Tim juga berdialog dengan tokoh pemuka agama setempat, Pak Sera’i, untuk menggali makna beruah dari perspektif adat dan keagamaan.


Menurut Pak Sera’i, tradisi beruah memiliki nilai spiritual yang kuat karena menjadi sarana masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa bersama.

“Beruah ni sebenarnye bentuk rasa syukur kite kepada Allah. Kite berkumpul, berdoa, minta keselamatan, minta keberkahan. Di situ juga kite diajak untuk saling mengingatkan tentang pentingnye silaturahmi dan berbagi rezeki,” ujar Pak Sera’i.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam praktiknya, beruah di Belitung Timur sering kali disertai dengan niat mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia, sesuai dengan permintaan dari tuan rumah.

“Biasanye tuan rumah minta supaya dalam doa tu disertakan jugak niat untuk mendoakan keluarga yang sudah mendahului kite. Kite kirim Al-Fatihah, tahlil, dan doa, semoga mereka diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan di sisi Allah,” tambahnya.

Menurutnya, kebiasaan ini mencerminkan karakter masyarakat Belitung Timur yang masih kuat memegang nilai hormat kepada orang tua, leluhur, dan sejarah keluarga.

Dalam pelaksanaannya, beruah di Belitung Timur umumnya dilakukan secara sederhana, dengan hidangan khas seperti nasi, lauk pauk, kue tradisional, serta minuman manis. Meski sederhana, suasana kebersamaan menjadi inti utama dari tradisi ini.

Tim Radio Sisnet menilai, tradisi beruah tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga berfungsi sebagai ruang sosial masyarakat, tempat bertemu, berdialog, saling mendoakan, serta memperkuat ikatan sosial di tingkat kampung dan desa.

Di tengah tantangan zaman, tradisi beruah di Belitung Timur dinilai relevan sebagai sarana menjaga identitas budaya lokal, sekaligus memperkuat nilai religius dan solidaritas sosial masyarakat.

Beruah bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi menjadi modal budaya yang penting dalam membangun masyarakat Belitung Timur yang rukun, religius, dan berkarakter. (S)

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update