BELITUNG TIMUR, SISNET RADIO — Prestasi Arsiparis Teladan Nasional yang diraih Woro Hapsari Candra Dewi tidak hanya menjadi capaian personal. Prestasi tersebut turut membuka ruang lebih luas bagi Kabupaten Belitung Timur untuk memperkenalkan kekayaan arsip dan sejarah daerah ke tingkat nasional, bahkan membuka peluang menuju pengakuan dunia.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belitung Timur, Mudiarsono, S.E., M.I.R. (Yayan), mengatakan keberhasilan Woro sebagai Arsiparis Teladan terbaik tingkat nasional memberikan dampak positif terhadap citra Kabupaten Belitung Timur.
Menurutnya, sejumlah daerah bahkan mulai datang untuk mempelajari pengelolaan kearsipan yang dilakukan di Belitung Timur.
“Ini kerja sama tim. Inovasi itu kerja tim,” ujar Yayan dalam wawancara bersama Sisnet Radio.
Ia menjelaskan, pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan kelembagaan, pemerintah daerah serta kerja bersama dalam proses persiapan, dokumentasi hingga pengembangan inovasi kearsipan.
Arsip Ambach Cursus Masuk Lima Besar Nominasi
Lebih jauh, Yayan mengungkapkan bahwa Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Belitung Timur saat ini tengah mendorong arsip Ambach Cursus sebagai bagian dari upaya memperoleh pengakuan sebagai Memori Kolektif Bangsa.
Menurut Yayan, proses pengusulan telah dilakukan melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan arsip Ambach Cursus telah masuk dalam lima besar nominasi Memori Kolektif Bangsa.
Ia menyebut, keberhasilan pada tingkat nasional nantinya dapat menjadi pintu menuju pengusulan pada tingkat internasional.
“Kalau Memori Kolektif Bangsa ini berhasil, nanti akan diusulkan menjadi arsip dunia,” jelasnya.
Ambach Cursus yang berada di Manggar dinilai memiliki nilai sejarah penting karena berkaitan erat dengan perkembangan sumber daya manusia dan industri pertimahan di Indonesia.
Woro Hapsari Candra Dewi menjelaskan, Ambach Cursus didirikan pada 1928 dan menjadi lembaga pendidikan keterampilan yang mempersiapkan tenaga terampil di bidang mesin, listrik serta pertukangan untuk mendukung industri timah.
Yang membuatnya semakin penting, menurut Woro, peserta didik Ambach Cursus berasal dari kalangan pribumi, termasuk dari Belitung, Bangka, Dabo Singkep dan sejumlah daerah lainnya.
“Jadi salah satu sekolah pada tahun 1928 itu siswanya 100 persen dari pribumi Indonesia,” ungkap Woro.
Dari Manggar, Lahir Tenaga Terampil yang Menjangkau Dunia
Woro menilai nilai penting Ambach Cursus tidak hanya terletak pada keberadaan sekolah tersebut, tetapi pada jejak para alumninya.
Sejumlah alumni Ambach Cursus diketahui kemudian bekerja dan berkiprah hingga ke luar negeri. Arsip berupa dokumen perjalanan dan paspor menjadi bagian dari bukti autentik yang sedang ditelusuri dalam penelitian kearsipan.
Menurut Woro, kondisi tersebut menunjukkan bahwa dari sebuah wilayah yang pada masa itu berada jauh dari pusat pemerintahan, telah lahir sumber daya manusia dengan kemampuan teknis yang mampu berkiprah di tingkat internasional.
Ia juga mengungkapkan bahwa para alumni Ambach Cursus memiliki keterkaitan dengan perkembangan teknologi pertambangan timah, termasuk pembuatan dan pengembangan kapal keruk.
Dokumen mengenai kapal keruk tersebut menjadi salah satu bagian arsip yang dinilai penting dalam menggambarkan kemampuan sumber daya manusia lokal pada masa tersebut.
“Putra-putra terbaik Belitung melalui Ambach Cursus mampu menciptakan kapal keruk sendiri,” kata Woro.
Menurutnya, nilai historis Ambach Cursus semakin kuat karena sekolah tersebut memiliki hubungan langsung dengan perkembangan industri timah yang pada masa itu memiliki skala internasional.
Arsip Bukan Sekadar Dokumen Lama
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belitung Timur juga terus melakukan akuisisi dan penyelamatan arsip dari berbagai organisasi perangkat daerah, desa, sekolah serta lembaga yang mengalami perubahan kelembagaan.
Yayan mengatakan arsip-arsip yang memiliki nilai permanen harus diselamatkan karena dapat menjadi sumber informasi penting bagi generasi mendatang.
Sejumlah arsip bahkan telah didigitalisasi dan diunggah melalui Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) sehingga dapat diakses oleh publik.
Menurut Yayan, masyarakat perlu memiliki kesadaran atau “melek arsip”, karena banyak sejarah daerah yang hanya dapat diketahui melalui dokumen dan arsip yang terselamatkan.
Ia mencontohkan arsip sekolah yang sudah tidak ada lagi. Jika arsipnya hilang, generasi berikutnya akan kesulitan menelusuri sejarah pendidikan dan keberadaan sekolah tersebut.
“Arsip itu memang kadang dipandang sebelah mata,” ujarnya.
Menjaga Ingatan Belitung Timur
Bagi Woro, upaya membawa arsip Ambach Cursus ke tingkat nasional bahkan menuju kemungkinan pengakuan internasional bukan semata-mata untuk mengejar predikat.
Lebih dari itu, arsip tersebut menjadi bukti bahwa Belitung Timur memiliki sejarah panjang dalam membentuk sumber daya manusia dan mendukung perkembangan industri pertimahan.
Proses penelusuran arsip pun tidak sederhana. Tim harus berburu berbagai dokumen, melakukan autentikasi serta menelusuri jejak alumni dan institusi yang berkaitan dengan Ambach Cursus.
Woro mengatakan pihaknya telah menemukan sejumlah dokumen autentik yang menjadi bahan penting dalam proses pengusulan.
Jika nantinya berhasil memperoleh pengakuan sebagai Memori Kolektif Bangsa, peluang untuk diarahkan menuju Memory of the World akan menjadi tahapan berikutnya.
Bagi Belitung Timur, langkah tersebut bukan hanya tentang membawa nama daerah ke tingkat yang lebih luas, tetapi juga memastikan bahwa sejarah dan kontribusi masyarakat daerah tidak hilang dari ingatan generasi mendatang.
Dari Manggar, sebuah sekolah yang berdiri hampir satu abad lalu kini kembali membuka cerita tentang sumber daya manusia, teknologi, pendidikan dan industri timah—sebuah bagian dari sejarah Belitung Timur yang sedang berusaha diselamatkan melalui arsip.
Sisnet Radio — Satu Hati Bangun Negeri.





