Sisnet Radio – Pagi itu, suasana Desa Aik Madu, Kecamatan Simpang Renggiang, terasa berbeda dari biasanya. Minggu (26/04/2026), sejak matahari mulai menyinari kampung, masyarakat perlahan berdatangan menuju kediaman Ketua Adat, Kik Mardi. Mereka datang bukan sekadar menghadiri sebuah acara, melainkan menyatu dalam sebuah tradisi sakral yang telah diwariskan turun-temurun: Maras Taun.
Tradisi adat tahunan yang dimulai pukul 07.00 WIB hingga 08.00 WIB tersebut berlangsung dengan penuh khidmat, sederhana namun sarat makna. Di tengah derasnya perubahan zaman, Maras Taun tetap berdiri teguh sebagai simbol syukur, persaudaraan, dan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur masyarakat Belitong.
Satu per satu warga hadir dengan wajah penuh kehangatan. Mereka membawa bukan hanya lepat sebagai simbol adat, tetapi juga membawa niat baik untuk menjaga hubungan silaturahmi antar sesama. Bagi masyarakat Aik Madu, Maras Taun bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang pertemuan hati yang selama ini terpisah oleh kesibukan hidup.
Hadir dalam kegiatan tersebut anggota dewan Harminton, yang juga merupakan putra daerah Desa Aik Madu. Sementara sejumlah undangan lainnya berhalangan hadir karena agenda lain, sebagaimana disampaikan Kepala Desa Aik Madu.
Prosesi adat kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ketua BKM, Nasri. Dalam hening doa itu, masyarakat memanjatkan harapan kepada Allah SWT—memohon keselamatan, kesehatan, keberkahan hidup, dan ketenteraman kampung yang mereka cintai.
Ketua Adat: Maras Taun Adalah Jembatan Persaudaraan
Ketua Adat Desa Aik Madu, Kik Mardi, menyampaikan rasa haru dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah bersama-sama menjaga hidupnya tradisi ini.
Menurutnya, Maras Taun bukan hanya tentang adat membawa lepat atau sekadar ritual tahunan, melainkan tentang menjaga ikatan batin antarwarga agar tetap kuat di tengah perubahan zaman.
“Maras Taun ini bukan hanya untuk datang membawa lepat, tetapi menjadi momen mempererat tali silaturahmi. Yang biasanya jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, melalui acara ini kita kembali berkumpul, saling menyapa, dan memperkuat rasa persaudaraan,” ujar Kik Mardi.
Ia menegaskan, adat akan tetap hidup apabila masyarakatnya masih memiliki rasa memiliki terhadap budaya sendiri.
Tokoh Masyarakat: Jangan Biarkan Adat Hanya Tinggal Cerita
Tokoh masyarakat Desa Aik Madu, Amirudin, turut menyampaikan pesan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, menjaga adat bukan hanya tugas orang tua, tetapi juga tanggung jawab bersama agar warisan budaya tidak hilang ditelan zaman.
“Kalau bukan kita yang menjaga adat kampung ini, lalu siapa lagi? Maras Taun harus tetap hidup agar anak cucu kita nanti tahu bahwa mereka memiliki budaya yang luhur dan penuh nilai,” ungkap Amirudin.
Ia berharap para pemuda Desa Aik Madu semakin kompak dalam menjaga seni budaya lokal dan tidak melupakan identitas kampung halaman sendiri.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya perhatian orang tua terhadap pergaulan anak-anak, terutama dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai anak-anak kita salah langkah. Misalnya berkendara ugal-ugalan di jalan raya, itu sangat berbahaya. Orang tua harus lebih jeli memberi arahan agar anak-anak tumbuh dengan disiplin dan tanggung jawab,” pesannya.
Kepala Desa: Tradisi Harus Dijaga, Bukan Sekadar Dikenang
Kepala Desa Aik Madu, Rizki Filadi, turut mengapresiasi semangat masyarakat dalam menjaga budaya Maras Taun yang rutin digelar setiap tahun.
Menurutnya, keberlangsungan adat tidak akan pernah terjaga tanpa kepedulian dan gotong royong seluruh warga.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah peduli menjaga adat budaya kita. Maras Taun ini adalah identitas kampung kita. Insyaallah ke depan acara ini akan lebih meriah jika semua warga terus saling membantu dan mendukung,” ujar Rizki Filadi.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjunjung tinggi adat istiadat sebagai bagian dari jati diri masyarakat Belitong.
Ketika Tradisi Menjadi Nafas Kehidupan
Maras Taun bukan sekadar agenda adat. Ia adalah pengingat bahwa sebuah kampung akan tetap kuat jika masyarakatnya masih menghormati akar budayanya.
Di Desa Aik Madu, tradisi bukan hanya dikenang, tetapi dijalani. Di tengah modernisasi, masyarakat tetap percaya bahwa adat adalah tiang yang menjaga rumah besar bernama kebersamaan.
Dan pagi itu, di rumah sederhana Ketua Adat Kik Mardi, Maras Taun kembali membuktikan satu hal—bahwa budaya yang dijaga dengan hati, akan selalu hidup dan tak pernah mati.(Rados)





