Notification

×

Iklan

Iklan

SPBU Padang Pastikan Stok Pertalite Aman, Pak Jumhari Ungkap Penyebab Antrean di Lapangan

Jumat, 11 September 2026 | September 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-11T11:14:59Z


BELITUNG TIMUR, SISNET RADIO – Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah titik di Belitung Timur dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: apakah masyarakat sedang menghadapi kelangkaan Pertalite?

Untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan, Sisnet Radio melakukan wawancara langsung dengan pihak SPBU Padang. Dari hasil wawancara tersebut, pimpinan SPBU Padang, Jumhari, memberikan penjelasan mengenai ketersediaan BBM, antrean kendaraan, hingga persoalan penjualan BBM melalui pengerit.

Menurut Jumhari, kondisi di SPBU Padang sebenarnya tidak mengalami kekurangan stok Pertalite. Bahkan, pasokan BBM disebut tetap masuk secara rutin dan tersedia untuk melayani masyarakat.

“Kalau di sini tidak susah. Barang ada terus setiap hari,” ujar Jumhari saat ditemui Sisnet Radio.

Stok BBM Disebut Tetap Tersedia

Jumhari menjelaskan, pasokan yang diterima SPBU Padang cukup besar. Dalam satu kali pengiriman, jumlah BBM yang masuk dapat mencapai sekitar 40 ton, sementara penjualan harian berada di kisaran 20 hingga 25 ton.


Dengan kondisi tersebut, menurut Jumhari, masyarakat tidak perlu khawatir BBM akan habis di SPBU.

“Yang paling penjualan, malam masuk sekitar 40 ton. Keluarnya sekitar 25 ton,” jelasnya.

Ia bahkan menegaskan, selama masyarakat membeli BBM sesuai ketentuan dan langsung di SPBU, ketersediaan masih dapat dilayani.

Namun, persoalan berbeda muncul pada masyarakat yang selama ini memperoleh BBM melalui penjual eceran atau pengerit.

Penghentian Pengerit Membuat Pembelian Terkonsentrasi di SPBU

Jumhari menjelaskan, saat ini pihak SPBU tidak melayani pembelian BBM untuk pengerit yang kemudian menjual kembali BBM tersebut secara eceran.

Kondisi itu membuat masyarakat yang sebelumnya mendapatkan BBM dari kios atau penjual eceran kini harus datang langsung ke SPBU.

“Tidak ada pengerit. Dilarang. Jadi masyarakat yang mau beli langsung ke SPBU,” kata Jumhari.

Menurutnya, kondisi inilah yang kemudian membuat antrean di SPBU terlihat lebih padat. Masyarakat yang membutuhkan BBM secara bersamaan berkumpul di tempat pengisian yang sama.

Jumhari mengatakan pihaknya tidak dapat mengambil keputusan sendiri untuk kembali melayani pengerit sebelum terdapat arahan atau ketentuan yang memperbolehkannya.

“Selama keputusannya belum ada, kita tidak berani,” ujarnya.

SPBU Minta Masyarakat Tetap Tenang

Jumhari mengimbau masyarakat Belitung Timur agar tidak panik dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena stok BBM di SPBU, menurut keterangannya, tetap tersedia.

Ia memastikan masyarakat pengguna kendaraan tetap dilayani sesuai aturan yang berlaku.

Untuk pelayanan, SPBU Padang beroperasi mulai sekitar pukul 07.30 WIB hingga 19.30 WIB. Dalam kondisi tertentu, pelayanan dapat berlangsung lebih lama apabila antrean masyarakat masih cukup tinggi.

“Silakan beli di SPBU. Mau tidak mau memang harus antre,” kata Jumhari.

Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa pembelian BBM menggunakan sistem yang harus sesuai dengan ketentuan, termasuk kesesuaian kendaraan dan barcode.

Pengerit Mengaku Kehilangan Sumber Penghasilan

Di sisi lain, penghentian pembelian BBM oleh pengerit turut memberikan dampak kepada masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari penjualan BBM eceran.

Salah seorang pengerit, Hasari, mengatakan dirinya selama ini membeli BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar kios.

Ia mengaku menjual BBM dengan harga sekitar Rp13 ribu per liter dan tidak menaikkan harga sejak awal menjalankan usaha tersebut.


Menurut Hasari, keberadaan penjual eceran selama ini membantu masyarakat yang tidak ingin mengantre di SPBU atau membutuhkan BBM dalam jumlah kecil.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mencari jalan keluar yang tetap sesuai aturan, namun tidak mematikan mata pencaharian masyarakat kecil.

“Kalau bisa diberikan jatah untuk orang kios, kita ambil secukupnya untuk antisipasi,” ujarnya.

Antrean Panjang, Stok Disebut Aman

Keterangan dari pihak SPBU Padang memberikan gambaran bahwa persoalan BBM yang dirasakan masyarakat saat ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh kosongnya stok di SPBU.

Stok disebut tetap tersedia, tetapi pola pembelian masyarakat mengalami perubahan setelah pengerit tidak lagi diperbolehkan membeli BBM untuk dijual kembali.

Akibatnya, masyarakat yang sebelumnya memperoleh BBM dari kios atau penjual eceran kini harus datang langsung ke SPBU. Perubahan pola tersebut kemudian meningkatkan kepadatan antrean di sejumlah titik pengisian.

Persoalan ini sekaligus menunjukkan adanya kebutuhan untuk mencari solusi yang dapat mempertemukan kepentingan masyarakat pengguna BBM, SPBU, pengerit, serta aturan distribusi BBM yang berlaku.

Bagi masyarakat, yang paling dibutuhkan saat ini bukan sekadar kepastian bahwa stok tersedia, tetapi juga jaminan bahwa BBM dapat diperoleh dengan mudah, tertib dan adil tanpa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Sisnet Radio akan terus mengikuti perkembangan persoalan BBM di Belitung Timur dan menghadirkan keterangan dari pihak-pihak terkait secara berimbang.

📻 Sisnet Radio 90,5 FM – Informasi Lokal Belitung Timur
Satu Hati Bangun Negeri.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update