Dari Kata-Kata di Tengah Kampanye, Kini Beras Sampai ke Rumah-Rumah Warga
BELITUNG TIMUR, SISNET RADIO — Ada janji yang terdengar hanya ketika suara-suara kampanye memenuhi jalan dan masyarakat berkumpul di bawah panggung.
Tetapi ada pula janji yang justru baru diuji setelah sorak-sorai Pilkada selesai.
Di Belitung Timur, perjalanan Kamarudin Muten menjadi salah satu kisah yang menarik untuk dicermati.
Sebelum menjadi Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten telah berbicara tentang keinginannya membantu masyarakat dan menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Dalam kampanye September 2024, ia bahkan menyatakan bahwa menjadi bupati bukan untuk mencari materi, melainkan untuk membantu masyarakat. Ia juga menyampaikan komitmen menyumbangkan gaji dan tunjangannya apabila terpilih.
Kini, setelah berada di kursi kepala daerah, janji tersebut tidak berhenti menjadi rekaman masa kampanye.
Pada Januari 2026, diberitakan bahwa gaji yang diterimanya selama satu tahun digunakan untuk membeli 1.200 karung beras yang kemudian dibagikan melalui 39 desa di Kabupaten Belitung Timur.
Dan cerita itu belum berhenti.
Pada September 2026, bantuan beras kembali disalurkan kepada masyarakat nelayan. Di Kampung Bugis, Desa Gantung, Kamarudin secara langsung menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya merealisasikan janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat.
“Semua nelayan yang ada, sesuai janji politik kita. Jadi kita bagi,” demikian pernyataannya yang diberitakan pada saat penyaluran bantuan tersebut.
BUKAN SEKADAR BERAS
Mungkin bagi sebagian orang, beras hanyalah kebutuhan sehari-hari.
Tetapi bagi keluarga yang sedang mengalami kesulitan, beras bisa mempunyai arti yang jauh lebih besar.
Ia bisa berarti seorang ibu tidak lagi terlalu bingung memikirkan menu makan keluarganya esok hari.
Ia bisa berarti seorang ayah yang sedang kesulitan mendapatkan penghasilan masih mampu membawa sesuatu pulang ke rumah.
Dan bagi sebuah keluarga sederhana, bantuan itu mungkin menjadi pesan bahwa mereka masih diperhatikan.
Itulah sebabnya, ketika bantuan beras bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya, yang seharusnya kita lihat bukan hanya berapa banyak karung yang dibagikan.
Tetapi juga berapa banyak harapan yang ikut dibawa bersamanya.
Dari Burung Mandi hingga Aik Madu, perhatian kepada masyarakat terus menjadi bagian dari perjalanan program bantuan pemerintah daerah.
Pendataan masyarakat di lapangan juga melibatkan perangkat desa dan RT untuk mengetahui warga yang membutuhkan.
Karena kehidupan masyarakat tidak selalu dapat dibaca hanya dari angka.
Ada kebutuhan yang mungkin tidak terlihat dalam statistik.
Ada keluarga yang tidak banyak mengeluh.
Ada warga yang memilih diam ketika kesulitan datang.
Dan terkadang, justru mereka yang diam itulah yang membutuhkan seseorang untuk datang dan berkata:
“Kami tahu keadaan kalian. Kami tidak melupakan kalian.”
JANJI YANG DIUJI OLEH WAKTU
Politik memiliki masa.
Kampanye memiliki akhir.
Spanduk pada akhirnya akan diturunkan.
Panggung akan dibongkar.
Suara pemilih akan menjadi catatan sejarah.
Tetapi setelah semuanya selesai, seorang pemimpin masih memiliki tanggung jawab kepada masyarakat yang dahulu memberikan kepercayaan.
Di situlah sebuah janji politik menemukan maknanya.
Bukan ketika diucapkan.
Tetapi ketika diusahakan untuk diwujudkan.
Pemerintah Kabupaten Belitung Timur sendiri memasukkan sejumlah program bantuan masyarakat ke dalam program prioritas “Belitung Timur Nyaman”, termasuk bantuan kebutuhan hidup dan bantuan bagi nelayan.
Tentu saja, tidak semua persoalan masyarakat dapat selesai hanya dengan bantuan beras.
Pemerintah juga masih menghadapi keterbatasan anggaran dan berbagai persoalan pembangunan lainnya. Pemkab Beltim sendiri menyatakan bahwa sejumlah program unggulan direalisasikan secara bertahap sesuai kemampuan daerah.
Namun dari semua itu, ada satu hal yang patut dicatat:
sebuah janji akan selalu lebih berarti ketika masyarakat dapat merasakan bentuk nyatanya.
Dan mungkin, inilah pesan paling sederhana dari perjalanan tersebut.
Bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang duduk di kursi kekuasaan.
Tetapi tentang tetap mengingat wajah-wajah masyarakat yang dahulu ditemui, tangan-tangan yang pernah berjabat, keluhan yang pernah didengar, dan janji yang pernah disampaikan.
Karena pada akhirnya, sejarah seorang pemimpin tidak hanya ditulis oleh pidato-pidatonya.
Sejarah juga ditulis oleh apa yang ia tinggalkan di tengah masyarakat.
Dan ketika seorang warga membawa pulang beras untuk keluarganya, mungkin tidak banyak kata yang terucap.
Namun di balik pintu rumah yang sederhana itu, bisa saja ada seorang ibu yang tersenyum lega.
Ada seorang anak yang kembali bisa makan dengan tenang.
Dan ada sebuah keluarga yang berkata dalam hati:
“Ternyata janji itu masih diingat.”
SISNET RADIO — Satu Hati Bangun Negeri.


