Dua birokrat senior Beltim, satu ruang kerja, dan percakapan yang menyimpan banyak pelajaran
MANGGAR, SISNET RADIO — Tidak semua pertemuan harus berlangsung dalam ruang rapat. Tidak semua gagasan lahir dari meja konferensi. Terkadang, pemikiran yang paling jujur justru muncul dari sebuah percakapan sederhana, dalam suasana santai, tanpa sekat jabatan.
Pagi itu, Selasa 29/9/2026 sekitar pukul 10.00 WIB, sebuah kunjungan sederhana berubah menjadi pertemuan yang meninggalkan kesan mendalam.
Sebagai Pimpinan Sisnet Radio, Bang Sis berkunjung ke ruang kerja Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Belitung Timur, Zikril, S.S. Tidak disangka, di ruangan tersebut juga hadir Asisten II, Ikhwan Fahrozi.
Dua sosok birokrat yang bagi Bang Sis bukanlah nama asing.
Keduanya merupakan putra Belitung Timur yang telah melewati perjalanan panjang dalam pemerintahan daerah. Berbagai jabatan pernah dipercayakan kepada mereka, dari posisi teknis hingga jabatan strategis dalam pemerintahan.
Dan pagi itu, tidak ada suasana formal.
Yang ada adalah kelakar santai, cerita pengalaman, pandangan tentang pemerintahan, serta gagasan-gagasan tentang Belitung Timur.
Namun di balik tawa dan candaan, Bang Sis justru menangkap sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman puluhan tahun yang masih hidup dan terus berpikir untuk daerah.
Dua Nama, Dua Jejak Panjang
Ikhwan Fahrozi merupakan salah satu birokrat senior yang telah melewati berbagai fase pemerintahan Kabupaten Belitung Timur. Ia pernah dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung Timur pada masa Bupati Yuslih Ihza.
Dalam perjalanan pemerintahan berikutnya, ia juga pernah dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan pada masa kepemimpinan Bupati Kamarudin Muten.
Sementara Zikril, S.S. juga memiliki perjalanan panjang di pemerintahan Beltim. Ia pernah mengemban amanah sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, kemudian dipercaya memimpin BPKD Kabupaten Belitung Timur, dan kini menjalankan tugas sebagai Asisten III Sekretariat Daerah.
Bang Sis sendiri mengaku mengenal perjalanan Zikril sejak masa pemerintahan Bupati Basuri hingga pemerintahan Bupati Kamarudin Muten.
Karena itu, pertemuan tersebut terasa berbeda.
Bukan sekadar bertemu pejabat.
Tetapi bertemu dengan dua orang yang telah menyaksikan perubahan Belitung Timur dari dekat, dari dalam pemerintahan.
Jabatan Membuat Seseorang Dikenal, Pengalaman Membuat Seseorang Dihargai
Ada satu hal yang menarik dari pertemuan tersebut.
Di tengah kesibukan dan tanggung jawab sebagai pejabat daerah, keduanya masih bersedia menerima kunjungan dan berbincang santai bersama Bang Sis.
Tidak ada jarak yang terasa kaku.
Tidak ada pembicaraan yang dibuat-buat.
Justru dari kelakar itulah muncul berbagai cerita dan pemikiran yang menurut Bang Sis sangat berharga.
Pengalaman mereka seolah menjadi buku yang terbuka.
Tentang bagaimana birokrasi bekerja.
Tentang bagaimana sebuah kebijakan harus dipikirkan.
Tentang bagaimana seorang pejabat menghadapi persoalan.
Dan yang tidak kalah penting, tentang bagaimana seorang aparatur melihat masa depan daerah yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Bagi Bang Sis, inilah bentuk lain dari pengabdian seorang birokrat.
Sebab pengabdian tidak selalu harus diwujudkan dalam pidato atau keputusan besar.
Terkadang, pengabdian hadir melalui satu nasihat, satu pengalaman, satu gagasan, bahkan satu cerita yang kemudian menjadi bahan pemikiran bagi orang lain.
Ketika Masa Pensiun Semakin Dekat
Bagi Ikhwan Fahrozi, masa pengabdian sebagai ASN secara formal perlahan mendekati garis akhir. Sekitar satu tahun lagi, ia diperkirakan memasuki masa pensiun.
Tetapi apakah ketika seseorang pensiun, maka pengalaman dan pikirannya juga ikut berhenti?
Tentu tidak.
Justru di situlah letak nilai seorang birokrat senior.
Jabatan boleh berakhir. Ruang kerja boleh berganti. Seragam kedinasan suatu hari akan dilepas. Tetapi pengalaman puluhan tahun tidak seharusnya ikut pensiun.
Belitung Timur masih membutuhkan gagasan-gagasan tersebut.
Masyarakat masih membutuhkan pengalaman para senior.
Dan generasi birokrat berikutnya membutuhkan cerita tentang bagaimana daerah ini dibangun, bagaimana berbagai persoalan pernah dihadapi, serta bagaimana keputusan-keputusan pemerintahan pada masa lalu memberikan pelajaran bagi masa depan.
Sebuah Kebanggaan untuk Belitung Timur
Bang Sis melihat sosok Ikhwan Fahrozi dan Zikril bukan hanya dari jabatan yang pernah dan sedang mereka emban.
Lebih dari itu, keduanya adalah putra daerah yang telah menghabiskan sebagian perjalanan hidupnya untuk pemerintahan Belitung Timur.
Bagi Bang Sis, ada kebanggaan tersendiri ketika melihat dua birokrat senior tersebut masih dapat duduk bersama, berbagi cerita, bercanda, dan berdiskusi tentang daerah yang mereka cintai.
Dan mungkin, inilah wajah lain dari birokrasi yang jarang terlihat.
Di balik meja pejabat, ternyata ada manusia dengan perjalanan panjang, pengalaman, kegagalan, keberhasilan, dan harapan untuk daerahnya.
Pagi itu, ruang kerja Asisten III bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah kelakar santai.
Ia menjadi ruang kecil tempat pengalaman bertemu pengalaman, generasi bertemu pemikiran, dan kecintaan terhadap Belitung Timur kembali dibicarakan.
Bang Sis pulang bukan hanya membawa cerita.
Tetapi juga membawa satu kesimpulan sederhana:
“Kita boleh berbeda zaman, berbeda jabatan dan berbeda generasi. Tetapi selama masih memiliki gagasan untuk membangun daerah, maka pengabdian kepada Belitung Timur tidak pernah benar-benar selesai.”
Dan mungkin, itulah alasan mengapa pengalaman seorang birokrat senior begitu mahal nilainya.
Karena ketika usia pengabdian mendekati penghujung masa kedinasan, yang paling berharga bukan lagi kursi jabatan yang ditinggalkan, melainkan ilmu, pengalaman dan gagasan yang dapat diwariskan.
Sisnet Radio
Informasi Lokal Belitung Timur
“Satu Hati Bangun Negeri.”




