Belitung Timur, Sisnet Radio —Tekanan inflasi di Kabupaten Belitung Timur pada Maret 2026 tercatat moderat di tengah momentum Ramadan dan Idulfitri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 2,25 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 107,56.
Kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor dominan pendorong inflasi pada periode tersebut.
Statistisi Ahli Madya BPS Belitung Timur, Fetia Nursih Widiastuti, menyatakan bahwa komoditas emas memberikan andil signifikan terhadap inflasi.
“Emas perhiasan menyumbang sekitar 0,98 persen terhadap inflasi. Ini menjadi kontributor utama,” ujarnya dalam rilis resmi, Rabu (1/4/2026).
Menurut Fetia, lonjakan harga emas dipengaruhi dinamika global dan faktor geopolitik, sehingga berada di luar kendali intervensi pemerintah daerah. Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mengalami kenaikan seiring meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi tercatat 0,31 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 0,33 persen, masih dalam kisaran target nasional.
Di sisi lain, sejumlah kelompok pengeluaran mengalami deflasi, di antaranya pendidikan serta transportasi, yang turut menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Ekonomi Menguat, Sinyal Pemulihan Berlanjut
Di tengah tekanan harga, kinerja ekonomi Belitung Timur menunjukkan penguatan. Pada 2025, ekonomi daerah ini tumbuh 4,30 persen, berbalik dari kontraksi -0,03 persen pada tahun sebelumnya.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp11,98 triliun, meningkat sekitar Rp1,01 triliun dibandingkan 2024. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan juga naik menjadi Rp6,47 triliun, mencerminkan peningkatan aktivitas riil ekonomi.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan produksi di sejumlah sektor utama, seperti pertanian, perikanan, industri pengolahan, serta pertambangan dan penggalian.
Kenaikan juga tercermin pada PDRB per kapita yang mencapai Rp89,14 juta pada 2025, meningkat dari Rp82,60 juta pada tahun sebelumnya.
Daya Beli Jadi Perhatian, Pemkab Perkuat Intervensi
Pemerintah Kabupaten Belitung Timur menilai dinamika inflasi tetap perlu diantisipasi, terutama karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Keuangan, Bayu Priyambodo, menyebutkan sekitar 40 persen komoditas mengalami kenaikan harga, termasuk komoditas perikanan seperti cumi yang sempat menyentuh Rp150.000 per kilogram.
“Pengendalian inflasi harus dilakukan secara terukur, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Memasuki April, risiko inflasi masih berpotensi muncul, terutama dari fluktuasi harga emas dan kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat langkah strategis melalui pemantauan harga, menjaga distribusi, serta memastikan ketersediaan bahan pokok di masyarakat.
📌 Catatan Redaksi
Inflasi Belitung Timur pada Maret 2026 menunjukkan tekanan yang masih terkendali, meski dipicu faktor eksternal seperti harga emas global dan lonjakan konsumsi musiman. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang kembali menguat menjadi indikator positif pemulihan ekonomi daerah. (S)


