Sisnet Radio, Gantung – Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan budaya modern, semangat melestarikan seni tradisional di Kabupaten Belitung Timur masih terus tumbuh dan hidup di kalangan generasi muda. Hal tersebut terlihat dalam gelaran Evaluasi ke-4 dan Lomba Kelas Tari Sanggar Muara 9 yang berlangsung meriah di Khairan²¹ Cafe & Resto, Kecamatan Gantung, Minggu (24/5/2026).
Kegiatan yang dipenuhi nuansa budaya dan semangat kreativitas itu menjadi panggung bagi puluhan penari cilik binaan Sanggar Muara 9 untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Dengan balutan busana tari yang berwarna-warni dan penuh percaya diri, para peserta sukses memukau tamu undangan serta masyarakat yang memadati lokasi acara.
Sebanyak 37 peserta tampil dalam tiga kategori lomba, yakni Kelas A sebanyak 12 peserta, Kelas B 14 peserta, dan Kelas C sebanyak 11 peserta. Acara dibuka dengan penampilan tari penyambutan yang menggambarkan kekayaan budaya Nusantara sekaligus memperlihatkan hasil latihan rutin para siswa sanggar.
Camat Gantung, Dela Wahyudi yang hadir membuka kegiatan secara resmi menyampaikan apresiasi atas dedikasi Sanggar Muara 9 dalam membina generasi muda melalui seni budaya.
Menurutnya, keberadaan sanggar tari bukan hanya menjadi tempat belajar menari, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, rasa percaya diri, hingga memperkuat kecintaan anak-anak terhadap budaya daerah.
“Di era sekarang, kegiatan seperti ini sangat penting agar anak-anak memiliki aktivitas positif dan tidak hanya bergantung pada handphone atau gadget. Seni tari mampu membangun mental, kreativitas, dan kemampuan bersosialisasi anak,” ujarnya.
Ia juga menilai kegiatan tersebut dapat membuka peluang prestasi bagi anak-anak Belitung Timur untuk tampil di berbagai ajang seni, termasuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Menjaga Budaya, Membangun Masa Depan Anak
Ketua Panitia, Agustiawan atau yang akrab disapa Ogoet mengatakan, kegiatan evaluasi rutin ini menjadi bentuk keseriusan Sanggar Muara 9 dalam membina kemampuan peserta didik sekaligus menjaga eksistensi seni budaya daerah.
“Kami ingin anak-anak memiliki ruang untuk berkembang, berani tampil, dan terus mencintai budaya sendiri. Semoga kegiatan ini juga bisa memotivasi sanggar-sanggar lain di Belitung Timur untuk terus aktif membina generasi muda,” katanya.
Suasana semakin hidup ketika satu per satu peserta menampilkan berbagai tarian tradisional dan tari kreasi Nusantara. Tepuk tangan para orang tua dan pengunjung terus mengiringi setiap penampilan para penari cilik yang tampil penuh semangat di atas panggung.
Ketua Sanggar Muara 9, Meyca Revianti menjelaskan bahwa evaluasi bukan sekadar ajang perlombaan internal, melainkan bagian dari proses pembinaan mental dan pengembangan bakat anak-anak setelah menjalani latihan rutin di Gedung MPB Gantung.
“Kami ingin anak-anak memiliki rasa percaya diri, keberanian tampil di depan umum, dan tentunya semakin mencintai seni budaya daerah,” ujar Meyca.
Didampingi pelatih sanggar, Melly Novitasari, ia menegaskan komitmen Sanggar Muara 9 untuk terus mengenalkan tari Nusantara sekaligus melestarikan budaya khas Belitung Timur kepada generasi muda.
Sementara itu, di bawah pengawasan Diana Yuliastini selaku penanggung jawab lembaga, Sanggar Muara 9 diharapkan terus menjadi wadah kreativitas dan kegiatan positif bagi anak-anak di tengah tantangan perkembangan zaman.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pemberian penghargaan kepada para pemenang di masing-masing kategori lomba. Suasana hangat dan penuh kebanggaan tampak menghiasi akhir acara, menjadi bukti bahwa budaya daerah masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Belitung Timur.
Dengan mengusung motto “Gapailah mimpi setinggi langit, namun pijakkan kakimu di bumi,” Sanggar Muara 9 terus berupaya melahirkan generasi muda yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga tetap menjaga akar budaya dan jati diri daerahnya.(S)
Sumber: Diskominfo SP Belitung Timur




.jpeg)
