BELITUNG TIMUR, SISNET RADIO — Tekanan harga di Kabupaten Belitung Timur masih menjadi perhatian. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung Timur, pada September 2026 Kabupaten Belitung Timur mengalami inflasi 4,10 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,96.
Secara bulanan, inflasi September 2026 tercatat 0,60 persen, sementara inflasi tahun kalender atau year-to-date mencapai 2,57 persen.
Angka inflasi bulanan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 0,65 persen. Namun, jika dibandingkan September 2025 yang justru mengalami deflasi sebesar 0,20 persen, kondisi September tahun ini menunjukkan tekanan harga yang berbeda.
Bagi masyarakat, angka inflasi tersebut bukan sekadar statistik. Pergerakannya tercermin dari harga barang dan jasa yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, terutama kebutuhan pangan.
Daging Ayam Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Bulanan
Statistisi Ahli Madya BPS Kabupaten Belitung Timur, Fetia Nursih Widiastuti, menjelaskan bahwa tekanan inflasi bulanan September 2026 salah satunya berasal dari kenaikan harga daging ayam ras.
Harga komoditas tersebut tercatat meningkat 19,7 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,39 persen, menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan Beltim.
Selain daging ayam ras, kenaikan harga juga terjadi pada ikan kerisi yang meningkat 12,25 persen dengan andil inflasi 0,13 persen. Cabai rawit juga memberikan andil inflasi sebesar 0,13 persen, yang dikaitkan dengan terganggunya pasokan akibat kemarau panjang.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan inflasi di daerah tidak selalu berdiri sendiri. Perubahan harga di pasar dapat dipengaruhi oleh kondisi pasokan, cuaca, aktivitas nelayan, hingga kemampuan produksi pertanian.
Nelayan dan Petani Menghadapi Tekanan Cuaca
Sektor pangan Beltim juga menghadapi tantangan dari kondisi alam.
Menurut BPS Beltim, sektor perikanan dan pertanian menghadapi tekanan akibat fenomena cuaca ekstrem. Sejak Juni 2026, gelombang tinggi dan angin kencang membuat nelayan tradisional mengurangi aktivitas melaut.
Pada September, nelayan tradisional disebut hanya mampu melaut sekitar dua hingga tiga kali. Berkurangnya aktivitas melaut kemudian berdampak terhadap volume tangkapan sejumlah komoditas laut.
Sementara di sektor pertanian, kemarau panjang dan cuaca panas berdampak terhadap tanaman cabai. Kondisi tersebut memengaruhi kualitas tanaman sekaligus mengurangi pasokan cabai ke pasar.
Di titik inilah hubungan antara cuaca dan harga pangan menjadi nyata.
Ketika produksi dan pasokan terganggu, sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan, tekanan terhadap harga dapat meningkat.
Tidak Semua Komoditas Mendorong Inflasi
Menariknya, tidak seluruh komoditas pangan mengalami kenaikan harga.
Sejumlah komoditas laut justru mengalami deflasi dan menjadi penahan laju inflasi September. Ikan ekor kuning memberikan andil deflasi sebesar 0,15 persen, kemudian ikan bulat sebesar 0,10 persen dan cumi-cumi sebesar 0,04 persen.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga di pasar Beltim berlangsung dinamis. Ada komoditas yang naik karena pasokan terbatas, sementara komoditas lainnya justru mengalami penurunan harga.
Karena itu, pengendalian inflasi tidak cukup hanya melihat satu komoditas. Stabilitas harga membutuhkan perhatian terhadap keseluruhan rantai pasok, mulai dari produksi, distribusi hingga ketersediaan barang di tingkat konsumen.
Inflasi Tahunan: Perawatan Pribadi dan Pangan Jadi Sorotan
Secara tahunan, kenaikan indeks harga terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran yang dihitung dalam IHK Kabupaten Belitung Timur.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 7,79 persen, disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,34 persen.
Kemudian terdapat kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,47 persen; rekreasi, olahraga dan budaya 2,11 persen; pendidikan 1,65 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,35 persen; serta transportasi 1,20 persen.
Kenaikan juga tercatat pada kelompok pakaian dan alas kaki 0,86 persen, perlengkapan rumah tangga 0,79 persen, kesehatan 0,22 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,04 persen.
Dengan demikian, inflasi tahunan 4,10 persen mencerminkan kenaikan harga yang tersebar di berbagai kelompok pengeluaran, meskipun besarnya berbeda-beda.
Pemkab Beltim Bergerak Menahan Gejolak Harga Ayam
Tekanan harga daging ayam ras mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Belitung Timur.
Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Setda Kabupaten Beltim, Bayu Priyambodo, selaku perwakilan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah bersinergi dengan Bank Indonesia dan sejumlah vendor untuk menggelar operasi pasar daging ayam beku secara serentak di tujuh kecamatan.
Langkah tersebut dilakukan setelah harga daging ayam ras di tingkat pasar sempat berada pada kisaran Rp50.000 hingga Rp70.000 per kilogram.
Menurut Bayu, operasi pasar tersebut dinilai membantu meredam gejolak harga dan menekan laju kenaikan harga daging ayam di tingkat pengecer.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi di tingkat daerah membutuhkan respons yang cepat ketika terjadi gejolak harga komoditas strategis.
Pengendalian Inflasi Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Operasi Pasar
Operasi pasar dapat menjadi salah satu langkah jangka pendek. Namun, menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang membutuhkan penguatan pasokan.
Karena itu, TPID juga mendorong Dinas Perikanan merumuskan strategi khusus untuk menjaga ketersediaan ikan kerisi dan cumi-cumi, yang disebut menjadi komoditas yang kerap memberikan tekanan terhadap inflasi bulanan.
Persoalannya kembali pada satu hal penting: pasokan.
Ketika nelayan menghadapi gelombang tinggi, petani menghadapi kemarau, dan produksi menurun, maka pemerintah perlu mencari berbagai alternatif untuk menjaga ketersediaan pangan di pasar.
Inflasi dan Daya Beli Masyarakat
Inflasi pada akhirnya bukan hanya persoalan angka yang tercatat dalam laporan statistik.
Bagi masyarakat, inflasi berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketika harga pangan naik, rumah tangga harus menyesuaikan pengeluaran. Jika kenaikan harga berlangsung pada beberapa kelompok sekaligus, tekanan terhadap daya beli masyarakat dapat semakin terasa.
Karena itu, angka inflasi 4,10 persen di Beltim menjadi informasi penting bagi pemerintah, pelaku usaha, petani, nelayan, dan masyarakat untuk melihat kondisi ekonomi daerah secara lebih utuh.
Bagi pemerintah daerah, tantangannya adalah menjaga agar ketersediaan barang tetap terjamin dan gejolak harga dapat dikendalikan.
Bagi masyarakat, informasi inflasi dapat menjadi gambaran mengenai perubahan harga dan kondisi perekonomian daerah.
Sementara bagi sektor produksi, terutama pertanian dan perikanan, tantangannya adalah bagaimana menjaga produktivitas dan pasokan di tengah perubahan kondisi cuaca.
Dari Angka Menjadi Kebijakan
Rilis inflasi September 2026 pada akhirnya memberikan satu pesan penting: angka statistik harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Inflasi 0,60 persen secara bulanan, 2,57 persen sepanjang tahun berjalan, dan 4,10 persen secara tahunan bukan sekadar deretan angka.
Di baliknya ada harga ayam yang meningkat, ikan yang pasokannya terganggu, cabai yang terdampak kemarau, nelayan yang menghadapi keterbatasan melaut, serta masyarakat yang tetap harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, upaya menjaga stabilitas harga membutuhkan kerja bersama dan berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Belitung Timur melalui TPID menyatakan akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Bagi Beltim, pengendalian inflasi bukan hanya tentang menurunkan angka statistik. Lebih jauh, ini tentang memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia, harga tetap terkendali, dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
SISNET RADIO — Informasi Lokal Belitung Timur.
Satu Hati Bangun Negeri.




