Manggar, Sisnet Radio — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK)/inflasi Juni 2026 dalam kegiatan Berita Resmi Statistik (BRS) yang digelar di Kantor BPS Belitung Timur, Rabu (1/7/2026). Dalam rilis tersebut, Kabupaten Belitung Timur tercatat mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,84 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,35.
Inflasi tahunan tersebut terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Berdasarkan Siaran Pers BPS Kabupaten Belitung Timur 1 Juli 2026, kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,62 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,47 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,35 persen.
Selain itu, inflasi juga terjadi pada kelompok pendidikan sebesar 1,62 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,92 persen, kelompok transportasi sebesar 0,84 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,47 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,07 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,05 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen. Sementara itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya pada Juni 2026 tercatat tidak mengalami inflasi maupun deflasi.
Tak hanya secara tahunan, BPS juga mencatat bahwa pada Juni 2026 Kabupaten Belitung Timur mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,20 persen dan inflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,06 persen.
Kegiatan rilis statistik bulanan tersebut dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Belitung Timur, jajaran BPS, Satgas Pangan, instansi vertikal, serta para pemangku kepentingan lainnya. Dalam sambutan yang disampaikan mewakili Pemerintah Kabupaten Belitung Timur, disampaikan apresiasi kepada BPS atas konsistensinya menghadirkan data statistik yang akurat, berkualitas, dan tepat waktu.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Belitung Timur, kami menyampaikan apresiasi kepada BPS Kabupaten Belitung Timur atas komitmennya dalam menyediakan data statistik yang akurat, berkualitas, dan tepat waktu. Data yang disampaikan setiap bulan menjadi referensi penting dalam memantau perkembangan ekonomi daerah sekaligus dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan,” demikian disampaikan dalam forum tersebut.
Pemerintah Kabupaten Belitung Timur juga menegaskan komitmennya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk terus memperkuat sinergi dalam mengantisipasi gejolak harga, menjaga kelancaran distribusi, serta memastikan ketersediaan komoditas kebutuhan pokok masyarakat.
“Pemerintah Kabupaten Belitung Timur bersama TPID akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengantisipasi potensi gejolak harga, menjaga kelancaran distribusi, serta memastikan ketersediaan komoditas kebutuhan masyarakat,” lanjut sambutan tersebut.
Dalam sesi diskusi, turut dijelaskan mengenai perbedaan sumber data harga yang selama ini digunakan dalam pengendalian inflasi, yakni data Kementerian Perdagangan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) serta data resmi BPS.
Data SP2KP disebut berfungsi sebagai Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini, terutama untuk memantau pergerakan harga kebutuhan pokok harian di lapangan. Data ini dinilai penting sebagai bahan pertimbangan awal dalam melihat gejala kenaikan harga dan potensi tekanan inflasi. Sementara itu, BPS menyajikan data statistik resmi melalui metodologi penghitungan inflasi yang menjadi rujukan dalam kebijakan makro dan evaluasi ekonomi daerah.
Dengan demikian, kedua sumber data tersebut pada dasarnya memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Data harian dari Kementerian Perdagangan dapat menjadi alat deteksi dini terhadap perubahan harga di pasar, sedangkan data BPS menjadi acuan resmi untuk melihat perkembangan inflasi secara statistik.
Dalam forum itu juga mengemuka harapan agar perhatian pemerintah daerah terhadap upaya pengendalian inflasi semakin diperkuat, termasuk dukungan terhadap kegiatan pemantauan harga dan pengendalian stok di lapangan. Hal ini dinilai penting agar upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok tidak hanya bertumpu pada ketersediaan data, tetapi juga didukung langkah operasional yang memadai.
Selain itu, sejumlah komoditas disebut mengalami dinamika harga di pasaran, termasuk kelompok sayuran dan beberapa kebutuhan pokok masyarakat lainnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama agar potensi kenaikan harga dapat diantisipasi lebih awal melalui koordinasi lintas sektor, baik di tingkat daerah maupun bersama instansi vertikal terkait.
Melalui rilis resmi ini, BPS Belitung Timur kembali menegaskan perannya sebagai penyedia data statistik strategis bagi pemerintah daerah. Data inflasi yang disampaikan setiap bulan diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang tepat, khususnya dalam menjaga daya beli masyarakat, stabilitas harga, dan keberlanjutan pembangunan ekonomi di Kabupaten Belitung Timur. (B.Rados/Ronni)



