Notification

×

Iklan

Iklan

Bubor Nunu dan Aruk Gelagau Dihidupkan Kembali, Kuliner Tradisional Beltim Diperkenalkan kepada Generasi Muda

Senin, 28 September 2026 | September 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-28T08:42:03Z


BELITUNG TIMUR, SISNET RADIO — Suasana kawasan Situ Kulong Minyak, Manggar, Minggu (27/9/2026), terasa berbeda. Di tengah rangkaian peringatan World Tourism Day 2026 dan kegiatan Hari Olahraga Nasional (Haornas), masyarakat tidak hanya menikmati aktivitas wisata dan olahraga, tetapi juga diajak kembali mengenal kekayaan kuliner tradisional Belitung Timur.

Dua makanan khas daerah, Bubor Nunu dan Aruk Gelagau, turut dihadirkan dan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Aroma manis, gurih dan tekstur kenyal dari kuliner tradisional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali makanan khas Beltim yang mulai jarang dikenal, khususnya oleh generasi muda.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Belitung Timur, M. Yulhaidir, mengatakan peringatan World Tourism Day menjadi momentum untuk memperkuat berbagai potensi daerah, tidak hanya dari sektor destinasi wisata, tetapi juga budaya dan kuliner.


Menurutnya, generasi muda memiliki posisi penting dalam memperkenalkan kekayaan daerah melalui kreativitas, ekonomi kreatif serta pemanfaatan teknologi digital.

“Kita memiliki banyak sumber ekonomi dan kekayaan yang bisa dikembangkan, mulai dari budaya, destinasi wisata sampai kuliner. Karena itu, melalui generasi muda dan ekonomi kreatif, kita mencoba mendukung bagaimana potensi-potensi tersebut bisa diperkenalkan dan dikembangkan,” kata Yulhaidir.

Upaya memperkenalkan pariwisata Beltim juga dilakukan melalui media digital. Dalam kegiatan tersebut, generasi muda turut memperkenalkan berbagai informasi destinasi wisata melalui majalah digital yang dapat diakses menggunakan barcode.

Namun, Yulhaidir menegaskan bahwa teknologi bukan satu-satunya sarana untuk memperkenalkan pariwisata. Kuliner tradisional juga menjadi bagian penting dari identitas budaya dan daya tarik wisata daerah.

Karena itu, Bubor Nunu dan Aruk Gelagau sengaja dihadirkan agar masyarakat, terutama generasi muda, kembali mengenal makanan tradisional tersebut.

“Kita juga mencoba memperkenalkan kembali Bubor Nunu dan Aruk Gelagau kepada generasi muda. Banyak dari Gen Z yang mungkin belum mengenal makanan ini. Kita ingin mereka kembali mengetahui bahwa Belitung Timur memiliki kuliner tradisional yang merupakan bagian dari identitas dan kekayaan budaya kita,” ungkapnya.

Bubor Nunu Berpotensi Jadi Kuliner Wisata

Salah seorang wisatawan yang mencicipi Bubor Nunu, Dr. Ayu Krisna Yuliawati, menilai makanan tradisional tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari identitas pariwisata Belitung Timur.


Menurut Ayu, secara tekstur Bubor Nunu sekilas memiliki kemiripan dengan bubur tradisional di daerah lain. Namun, cita rasanya memiliki karakter tersendiri, terutama dari perpaduan singkong, kelapa dan gula kelapa.

“Bubor Nunu ini sekilas teksturnya mirip dengan bubur yang ada di Jawa, tetapi rasanya berbeda. Ada khas kelapanya, teksturnya halus dari singkong, kemudian ada rasa manis dari gula kelapa,” jelas Ayu.

Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia tersebut menilai pengenalan Bubor Nunu perlu diperluas, termasuk melalui sektor akomodasi pariwisata.

Menurutnya, kuliner tradisional dapat ditempatkan di hotel maupun homestay sehingga wisatawan yang datang ke Belitung Timur tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal makanan khas daerah.

“Menurut saya, Bubor Nunu ini perlu semakin diperkenalkan. Kalau bisa, makanan khas seperti ini tersedia di hotel-hotel atau homestay, sehingga wisatawan bisa mengenal bahwa ini merupakan makanan khas Belitung Timur. Jangan sampai makanan tradisional seperti ini justru punah,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, sekitar 500 porsi Bubor Nunu disiapkan dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Sementara Aruk Gelagau disiapkan sekitar dua kilogram untuk turut diperkenalkan kepada masyarakat.

Tak hanya kuliner, kawasan Situ Kulong Minyak juga diramaikan dengan Festival Stand Up Paddle Kulong Minyak serta pembagian hadiah bagi para peserta.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan Kulong Minyak sebagai ruang wisata, olahraga, rekreasi sekaligus ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner lokal.

Bagi Belitung Timur, mengenalkan kembali Bubor Nunu dan Aruk Gelagau bukan sekadar mempertahankan makanan warisan leluhur. Lebih jauh, kuliner tradisional dapat menjadi bagian dari cerita pariwisata—agar wisatawan tidak hanya membawa pulang foto dari Beltim, tetapi juga membawa pulang pengalaman dan rasa yang menjadi identitas daerah.

SISNET RADIO 90,5 FM — Informasi Lokal Belitung Timur.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update