Sejarah pembangunan tidak berubah karena pergantian nama, tetapi setiap nama tetap menyimpan cerita tentang zamannya
DAMAR, SISNET RADIO — Dalam perjalanan pembangunan sebuah daerah, gedung, stadion, jalan, jembatan dan berbagai fasilitas publik bukan sekadar bangunan fisik.
Di balik sebuah bangunan terdapat perencanaan, anggaran, keputusan pemerintahan, kerja birokrasi dan proses panjang yang dilakukan pada suatu masa kepemimpinan.
Karena itu, ketika sebuah fasilitas publik berganti nama, bangunannya mungkin tetap berdiri, tetapi sejarah mengenai kapan fasilitas tersebut hadir dan pada masa pemerintahan siapa tetap menjadi bagian dari perjalanan daerah.
Salah satu contohnya dapat dilihat dari kawasan olahraga di Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur.
JEJAK BTP TERCATAT DALAM DOKUMEN PEMERINTAH
Dokumen resmi Pemerintah Kabupaten Belitung Timur mengenai gambaran umum kondisi daerah mencatat bahwa pada 2014 terdapat GOR Utama BTP di Kecamatan Damar.
Dalam dokumen tersebut, pembangunan sarana olahraga Beltim dicatat secara bertahap. Untuk tahun 2014, selain GOR Futsal Kecamatan Manggar, tercatat pula GOR Utama BTP Kecamatan Damar.
Catatan ini penting karena tahun 2014 masih berada dalam periode pemerintahan Bupati Basuri Tjahaja Purnama, yang memimpin Belitung Timur pada 2010–2015.
Dengan demikian, secara historis, nama BTP memang memiliki jejak dalam perkembangan fasilitas olahraga Kabupaten Belitung Timur.
Bahkan dokumen RPJMD Kabupaten Belitung Timur periode 2016–2021 masih mencatat keberadaan Stadion BTP dan GOR BTP sebagai sarana olahraga yang dikelola pemerintah daerah.
Artinya, nama BTP bukan sekadar nama yang muncul dalam ingatan masyarakat.
Nama tersebut tercatat dalam dokumen pemerintahan daerah.
BASURI DAN BABAK PEMBANGUNAN SARANA OLAHRAGA
Pada era Basuri Tjahaja Purnama, pembangunan sarana olahraga menjadi salah satu bagian dari pembangunan infrastruktur daerah.
Data pemerintah menunjukkan bahwa jumlah gedung olahraga di Kabupaten Belitung Timur mengalami perkembangan pada periode tersebut. Dokumen pemerintah mencatat keberadaan GOR Utama BTP di Kecamatan Damar pada 2014.
Namun secara jurnalistik, perlu dibedakan antara dua hal:
Pertama, kapan fasilitas tersebut tercatat dan digunakan oleh pemerintah daerah.
Kedua, siapa yang secara teknis mengerjakan setiap tahapan pembangunan fisiknya.
Data yang tersedia cukup kuat untuk menyatakan bahwa GOR Utama BTP telah tercatat sebagai fasilitas olahraga pada 2014 dalam masa pemerintahan Basuri.
Tetapi untuk mengatakan bahwa seluruh bangunan tersebut secara keseluruhan “dibangun oleh Basuri” diperlukan dokumen proyek yang lebih spesifik, seperti DPA/APBD, kontrak pembangunan atau dokumen pekerjaan fisik.
Justru kehati-hatian seperti ini penting agar sejarah yang ditulis media tidak berubah menjadi klaim politik.
KETIKA NAMA BERUBAH, BANGUNANNYA TETAP MENJADI BAGIAN DARI SEJARAH
Perjalanan kemudian berlanjut.
Pada 10 Agustus 2022, ketika Belitung Timur dipimpin Bupati Burhanudin, dilakukan pengesahan nama Stadion Rimba Pelawan sebagai nama resmi stadion di Kecamatan Damar.
Dalam kegiatan tersebut, Burhanudin menandatangani pengesahan nama stadion dan menyampaikan bahwa stadion tersebut sebelumnya dikenal sebagai Stadion Pelangi.
Nama Rimba Pelawan dipilih dengan mengangkat unsur sejarah masyarakat Damar.
Sejak saat itu, berbagai kegiatan olahraga kemudian menggunakan nama Stadion Rimba Pelawan.
Pada 2023, misalnya, Pemerintah Kabupaten Belitung Timur menyelenggarakan Liga Desa U-40 di Stadion Rimba Pelawan dan melibatkan puluhan desa.
Pada 2024, kawasan tersebut kembali menjadi lokasi Kejuaraan Antarkampung dan Festival Olahraga Pendidikan Kemenpora RI.
Bahkan dalam dokumen pemerintah pada 2025, Stadion Rimba Pelawan masih menjadi lokasi pertandingan sepak bola, sementara GOR Sport Center Damar digunakan untuk pertandingan bulu tangkis.
Ini menunjukkan bahwa kawasan olahraga tersebut terus hidup dan digunakan oleh masyarakat.
NAMA BOLEH BERGANTI, SEJARAH TIDAK HILANG
Di sinilah menariknya melihat sejarah pembangunan sebuah daerah.
Ketika sebuah fasilitas berganti nama, masyarakat boleh mengenal nama baru.
Nama Rimba Pelawan kemudian menjadi identitas yang melekat pada stadion tersebut.
Namun keberadaan nama sebelumnya tetap menjadi bagian dari sejarah.
Karena sejarah pembangunan bukan hanya tentang nama yang terpampang di depan bangunan.
Sejarah juga berbicara tentang kapan fasilitas itu mulai dibangun atau tercatat, siapa yang memimpin daerah ketika proses itu berlangsung, dari mana anggarannya, apa tujuan pembangunannya dan bagaimana fasilitas tersebut kemudian dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.
Karena itu, tidak ada salahnya jika generasi sekarang mengenal bahwa sebelum dikenal sebagai Stadion Rimba Pelawan, kawasan olahraga di Damar pernah tercatat dengan nomenklatur Stadion BTP/Stadion Belitung Timur dan GOR BTP dalam dokumen pemerintah daerah.
REKAM JEJAK PEMIMPIN BUKAN UNTUK DIPERTENTANGKAN
Setiap kepala daerah tentu memiliki periode, kebijakan dan prioritas pembangunan masing-masing.
Basuri memiliki catatan pembangunan pada zamannya.
Burhanudin memiliki kebijakan dan keputusan pada periode pemerintahannya, termasuk memberikan identitas Rimba Pelawan.
Pemimpin berikutnya pun memiliki tanggung jawab untuk merawat dan mengembangkan fasilitas yang sudah ada.
Karena itulah, mencatat sejarah pembangunan seharusnya tidak dimaknai sebagai usaha menghidupkan kembali pertentangan politik masa lalu.
Sebaliknya, sejarah dapat menjadi arsip publik agar masyarakat mengetahui bagaimana sebuah daerah tumbuh dari waktu ke waktu.
Sebab sebuah gedung tidak lahir begitu saja.
Ada keputusan di baliknya.
Ada anggaran di baliknya.
Ada pekerjaan manusia di baliknya.
Dan ada pemerintahan pada suatu masa yang menjadi bagian dari proses tersebut.
DARI BTP, RIMBA PELAWAN, HINGGA GENERASI BERIKUTNYA
Hari ini, fasilitas olahraga di Damar tetap digunakan.
Anak-anak bermain sepak bola.
Atlet berlatih.
Turnamen digelar.
Masyarakat berkumpul.
Dan pemerintah terus memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan olahraga.
Itulah sesungguhnya ukuran paling penting dari sebuah pembangunan.
Bangunannya tetap memberi manfaat.
Nama dapat berubah mengikuti keputusan pemerintah dan identitas yang ingin dibangun.
Tetapi catatan mengenai perjalanan bangunan tersebut tidak semestinya ikut dihapus dari ingatan publik.
BTP adalah bagian dari catatan sejarah pembangunan pada masanya.
Rimba Pelawan adalah identitas yang diberikan kemudian.
Keduanya dapat dicatat tanpa harus dipertentangkan.
Karena pembangunan Belitung Timur bukan cerita satu orang.
Bukan pula cerita satu periode pemerintahan.
Ia adalah estafet panjang dari satu pemimpin kepada pemimpin berikutnya.
Dan tugas media adalah memastikan setiap mata rantai sejarah tersebut tetap tercatat.
SEJARAH BOLEH BERUBAH NAMANYA, TETAPI FAKTANYA HARUS TETAP TERCATAT.
Sisnet Radio 90.5 FM
Informasi Lokal Belitung Timur
Satu Hati Bangun Negeri



