Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi sahabat pendengar Radio Sisnet 90,5 FM Belitung Timur.
Senang sekali saya, Bang Sis, kembali hadir menemani Anda dalam program “Sebaiknya Anda Tahu”, sebuah program yang mengajak kita menambah ilmu, membuka wawasan, sekaligus mengambil pelajaran dari sejarah yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an.
Sahabat pendengar…
Hari ini kita akan membahas sebuah tokoh yang sangat terkenal dalam sejarah manusia. Namanya sering disebut dalam Al-Qur’an, bahkan kisahnya menjadi pelajaran besar tentang kesombongan manusia terhadap Allah.
Dialah Fir’aun, raja Mesir yang terkenal dengan kekuasaan, kekayaan, dan juga kekejamannya.
Siapa Fir’aun?
Perlu diketahui sahabat pendengar, Fir’aun sebenarnya bukan nama orang, melainkan gelar raja-raja Mesir kuno, seperti halnya gelar “Raja” atau “Kaisar”.
Namun Fir’aun yang terkenal dalam kisah Nabi Musa diyakini oleh banyak ahli sejarah adalah Ramses II atau Merneptah, penguasa Mesir yang hidup sekitar 1300 tahun sebelum Nabi Isa.
Fir’aun adalah penguasa besar Mesir yang memiliki kerajaan sangat kuat, tentara besar, dan kekayaan yang luar biasa.
Siapa Orang Tua Fir’aun?
Sejarah Mesir kuno tidak mencatat secara pasti dalam Al-Qur’an siapa nama ayah dan ibu Fir’aun dalam kisah Nabi Musa.
Namun menurut catatan sejarah Mesir kuno, Fir’aun berasal dari keluarga kerajaan yang sudah turun-temurun memerintah Mesir.
Artinya sejak kecil ia sudah hidup dalam kemewahan, kekuasaan, dan penghormatan rakyat.
Sejak muda ia dididik untuk menjadi raja yang berkuasa penuh atas negeri Mesir.
Bagaimana Fir’aun Bisa Menguasai Mesir?
Mesir pada masa itu adalah kerajaan paling maju di dunia.
Mereka memiliki:
-
tentara yang sangat besar
-
teknologi pembangunan piramida
-
kekayaan emas yang melimpah
-
sungai Nil yang sangat subur
Fir’aun memimpin dengan sistem kerajaan absolut, artinya semua keputusan ada di tangannya.
Al-Qur’an menjelaskan bagaimana Fir’aun berhasil membuat rakyat tunduk.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Surah Az-Zukhruf ayat 54
"فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ"
Artinya:
"Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya lalu mereka mematuhinya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik."
Artinya rakyat Mesir dibuat takut, terpengaruh, dan akhirnya tunduk kepada Fir’aun.
Fir’aun Mengaku Sebagai Tuhan
Kesombongan Fir’aun mencapai puncaknya ketika ia mengaku sebagai Tuhan.
Allah mengabadikan perkataan Fir’aun dalam Al-Qur’an.
Surah An-Naziyat ayat 24
"فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى"
Artinya:
"Akulah tuhanmu yang paling tinggi."
Ini adalah bentuk kesombongan manusia yang paling besar dalam sejarah.
Fir’aun merasa dirinya tidak bisa dikalahkan karena:
-
memiliki kekuasaan
-
memiliki tentara besar
-
memiliki kekayaan yang sangat banyak
Kekayaan dan Kekuasaan Fir’aun
Dalam sejarah Mesir kuno, Fir’aun dikenal sebagai raja yang sangat kaya.
Ia memiliki:
-
Istana-istana besar dari batu dan emas
-
Ribuan budak
-
Pasukan tentara puluhan ribu orang
-
Kereta perang yang sangat banyak
Al-Qur’an juga menjelaskan kemewahan kerajaan Fir’aun.
Surah Az-Zukhruf ayat 51
Fir’aun berkata kepada rakyatnya:
"Bukankah kerajaan Mesir ini milikku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasaanku?"
Ini menunjukkan betapa besar kekuasaan Fir’aun.
kisah Fir’aun yang memerintahkan membangun bangunan sangat tinggi untuk “melihat Tuhan Musa” memang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Namun para ulama menjelaskan bahwa tujuan Fir’aun bukan benar-benar ingin sampai ke langit, tetapi sebagai bentuk kesombongan dan untuk menyesatkan rakyatnya, seolah-olah ia ingin membuktikan bahwa Tuhan Nabi Musa tidak ada.
Peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur’an ketika Fir’aun memerintahkan seorang menterinya yang bernama Haman untuk membangun bangunan yang sangat tinggi.
Perintah Fir’aun Membangun Menara Tinggi
Allah berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 38:
“Dan Fir’aun berkata: Wahai para pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah tanah liat untukku wahai Haman, lalu buatkanlah untukku bangunan yang tinggi agar aku dapat melihat Tuhan Musa. Dan sesungguhnya aku benar-benar mengira Musa termasuk orang yang berdusta.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Fir’aun menyombongkan diri dengan mengaku sebagai tuhan dan ingin mempermalukan Nabi Musa di hadapan rakyatnya.
Disebutkan Juga Dalam Surah Ghafir
Perintah itu juga disebutkan lagi dalam Surah Ghafir ayat 36–37:
“Dan Fir’aun berkata: Wahai Haman, bangunkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu langit, yaitu pintu-pintu langit agar aku dapat melihat Tuhan Musa. Dan sungguh aku mengira Musa itu pendusta.”
Ayat ini menggambarkan kesombongan Fir’aun yang sangat luar biasa.
Ia merasa bahwa dengan kekuasaan, teknologi, dan tenaga manusia, ia bisa menantang Tuhan.
Penjelasan Ulama
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa:
-
Fir’aun tidak benar-benar percaya bisa mencapai langit
-
Ia melakukan itu untuk propaganda politik
-
Ia ingin meyakinkan rakyat bahwa Musa berbohong
Dengan cara itu rakyat tetap percaya bahwa Fir’aun adalah penguasa tertinggi.
Inilah salah satu cara penguasa zalim mempertahankan kekuasaan:
membuat kebohongan terlihat seperti kebenaran.
Kekejaman Fir’aun
Sahabat pendengar Radio Sisnet…
Yang membuat Fir’aun terkenal bukan hanya kekuasaannya, tetapi juga kekejamannya terhadap rakyat.
Ketika ia mendengar ramalan bahwa akan lahir seorang anak dari kaum Bani Israil yang akan menghancurkan kekuasaannya, Fir’aun membuat perintah yang sangat kejam.
Ia memerintahkan:
Semua bayi laki-laki Bani Israil harus dibunuh.
Allah menjelaskan ini dalam Al-Qur’an.
Surah Al-Qasas ayat 4
Artinya:
"Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah. Dia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka."
Ini adalah salah satu kejahatan terbesar dalam sejarah manusia.
Istri Fir’aun yang Beriman
Menariknya sahabat pendengar…
Di balik kekejaman Fir’aun, justru istrinya sendiri menjadi wanita yang beriman kepada Allah.
Namanya adalah Asiyah binti Muzahim.
Beliaulah yang menemukan bayi Nabi Musa di sungai Nil dan merawatnya di istana.
Allah memuji keimanan istri Fir’aun dalam Al-Qur’an.
Surah At-Tahrim ayat 11
Artinya:
"Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir’aun ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku rumah di sisi-Mu dalam surga."
Karena keimanannya, Asiyah akhirnya disiksa oleh Fir’aun hingga wafat.
Akhir Kehidupan Fir’aun
Kesombongan Fir’aun akhirnya dihancurkan oleh Allah.
Ketika Nabi Musa membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir’aun mengejar mereka dengan pasukan besar.
Namun ketika mereka sampai di Laut Merah, Allah memerintahkan Nabi Musa memukul laut dengan tongkatnya.
Laut terbelah.
Bani Israil selamat.
Namun Fir’aun dan tentaranya tenggelam.
Allah mengabadikan kejadian ini dalam Al-Qur’an.
Surah Yunus ayat 92
Artinya:
"Pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahmu."
Karena itulah hingga hari ini, jasad Fir’aun ditemukan dan disimpan di museum Mesir sebagai bukti sejarah.
Hikmah untuk Kita
Sahabat pendengar Radio Sisnet yang dirahmati Allah…
Dari kisah Fir’aun kita belajar bahwa:
-
Kekuasaan tidak membuat manusia mulia
-
Kekayaan tidak membuat manusia selamat
-
Kesombongan hanya membawa kehancuran
Fir’aun yang memiliki:
-
kerajaan besar
-
tentara kuat
-
emas melimpah
akhirnya hancur dalam satu malam oleh kehendak Allah.
Penutup Penyiar
Sahabat pendengar Radio Sisnet 90,5 FM…
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa manusia hanyalah hamba Allah.
Jangan sampai kita memiliki sifat seperti Fir’aun: sombong, merasa paling hebat, dan lupa kepada Tuhan.
Semoga ilmu yang kita dengarkan pagi ini menambah keimanan dan membuka hati kita untuk selalu rendah hati di hadapan Allah SWT.
Saya Bang Sis pamit undur diri dari program “Sebaiknya Anda Tahu.”
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.(S)



