Ketika cita-cita pembangunan tidak boleh berhenti pada pergantian bupati
MANGGAR, SISNET RADIO — Hari ini, 9 Oktober 2026, Kota Manggar memperingati Hari Jadi ke-155. Lebih dari sekadar angka usia, momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang ibu kota Kabupaten Belitung Timur—sebuah perjalanan yang dibentuk oleh pergantian pemimpin, perubahan zaman, keterbatasan anggaran, sekaligus gagasan-gagasan pembangunan yang sebagian telah terwujud dan sebagian lainnya masih menunggu untuk dilanjutkan.
Manggar bukan hanya pusat pemerintahan. Dalam dokumen tata ruang Kabupaten Belitung Timur, Manggar ditetapkan sebagai pusat kegiatan wilayah. Kota ini juga berkembang sebagai pusat ekonomi, pelayanan publik dan kehidupan masyarakat Kabupaten Belitung Timur.
Karena itu, membicarakan kemajuan Manggar dan Belitung Timur tidak cukup hanya melihat siapa yang sedang menjadi bupati. Pembangunan daerah sejatinya merupakan estafet.
Dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Khairul Effendi, Basuri Tjahaja Purnama, Yuslih Ihza Mahendra, Burhanudin, hingga Kamarudin Muten, setiap periode membawa kebijakan, gagasan dan tantangannya masing-masing.
Dan hari ini, estafet itu berada di tangan Bupati Kamarudin Muten bersama Wakil Bupati Khairil Anwar, yang mulai memimpin pada 20 Februari 2025.
DARI AHOK DAN GAGASAN INDUSTRI AIK KELIK
Belitung Timur pernah memiliki seorang kepala daerah yang kemudian dikenal luas secara nasional, yakni Basuki Tjahaja Purnama.
Ahok menjabat sebagai Bupati Belitung Timur pada 2005–2006. Namun jauh sebelum masuk ke pemerintahan, Ahok telah memiliki gagasan tentang bagaimana daerah bekas tambang dapat membangun ekonomi baru melalui industri dan hilirisasi. Profil Ahok mencatat bahwa dirinya membangun cikal bakal Kawasan Industri Air Kelik pada 1994.
Dalam dokumen perencanaan kawasan industri Belitung Timur, sejarah KIAK juga dikaitkan dengan pembangunan pabrik pengolahan pasir kuarsa di Burung Mandi dan gagasan pengembangan kawasan industri serta pelabuhan samudra.
Artinya, gagasan KIAK bukanlah cerita yang baru muncul hari ini.
Ia merupakan bagian dari cita-cita lama untuk mengubah pola ekonomi Beltim: dari daerah yang sangat bergantung pada komoditas mentah menuju daerah yang mampu mengembangkan industri pengolahan dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Gagasan itu kemudian masuk dalam berbagai dokumen tata ruang dan perencanaan pembangunan. Bahkan RTRW Kabupaten Belitung Timur 2014–2034 mencantumkan KIAK sebagai bagian dari sistem jaringan transportasi laut dan terminal khusus.
Namun perjalanan KIAK tidak selalu mulus.
ERA BASURI: KETIKA PARIWISATA DAN KONEKTIVITAS MENJADI MIMPI BESAR
Pada 2010–2015, Belitung Timur dipimpin dr. Basuri Tjahaja Purnama.
Pada masa Basuri, gagasan pembangunan Beltim semakin diarahkan kepada pariwisata dan konektivitas.
Pada 2015, Basuri secara terbuka menyampaikan rencana pembangunan bandara internasional baru serta marina untuk kapal yacht di Manggar. Dalam pemberitaan saat itu, marina direncanakan memiliki kapasitas hingga 100 kapal yacht, sedangkan bandara direncanakan dibangun bertahap sambil menunggu investor.
Pemberitaan lain pada tahun yang sama juga mencatat rencana Marina Internasional di kawasan Bandung River Manggar, yang saat itu diproyeksikan sebagai salah satu pintu masuk wisatawan dan penggerak ekonomi baru.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa sejak satu dekade lalu sudah ada visi untuk membawa Beltim keluar dari ketergantungan pada sektor pertambangan.
Namun, tidak semua gagasan pembangunan dapat diwujudkan dalam satu periode pemerintahan.
Ada persoalan investasi, pembiayaan, regulasi, infrastruktur, pergantian pemerintahan dan berbagai dinamika pembangunan yang membuat sebagian rencana berjalan lambat atau tertunda.
YUSLI DAN BURHANUDIN: ESTAFET PEMBANGUNAN BERLANJUT
Setelah Basuri, kepemimpinan berlanjut kepada Yuslih Ihza Mahendra pada 2016–2021, kemudian diteruskan oleh Burhanudin pada 2021–2025.
Pada periode berikutnya, sejumlah agenda pembangunan tetap berjalan, termasuk pengembangan pariwisata, geopark, pelayanan publik, infrastruktur serta penguatan ekonomi masyarakat.
Pada masa Burhanudin, misalnya, pengembangan Geopark Belitong menjadi salah satu agenda yang terus mendapat perhatian pemerintah daerah. Pemkab Beltim pada 2022 menyatakan pengembangan warisan geologi di Beltim diharapkan dapat memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
Menjelang berakhirnya masa jabatan Burhanudin, ia juga menyampaikan pesan agar program-program baik yang telah dibangun dapat diteruskan oleh pemimpin berikutnya.
Pesan tersebut menjadi penting.
Sebab pembangunan daerah seharusnya tidak dimulai dari angka nol setiap kali terjadi pergantian bupati.
2025: KAMARUDIN MUTEN MEMULAI BABAK BARU
Pada 20 Februari 2025, tongkat estafet kepemimpinan Belitung Timur berpindah kepada Kamarudin Muten dan Khairil Anwar.
Kamarudin datang dengan visi “Belitung Timur Nyaman dan Berkemajuan”.
Dalam rancangan RPJMD 2025–2029, pemerintahannya memasukkan sejumlah program prioritas, mulai dari jaminan kesehatan, bantuan kebutuhan hidup, beasiswa, renovasi rumah, penciptaan lapangan kerja, bantuan modal UMKM, bantuan pertanian, hingga bantuan bagi nelayan.
Dalam forum bersama Bappenas pada Juni 2025, Kamarudin juga memaparkan 17 program unggulan dan 11 program andalan, termasuk pelayanan publik berbasis digital, beasiswa sarjana, insentif UMKM dan nelayan serta pembangunan konektivitas.
Tetapi yang menarik, Kamarudin tidak hanya membawa program baru.
Ia juga berbicara tentang meneruskan gagasan lama yang belum selesai.
KIAK KEMBALI DIHIDUPKAN
Salah satu contoh paling jelas adalah Kawasan Industri Aik Kelik atau KIAK.
Pada 2026, Kamarudin secara terbuka menyatakan bahwa Pemkab Beltim kembali menyiapkan kawasan industri tersebut. Ia menyebut master plan kawasan hampir rampung dan KIAK disiapkan sebagai fondasi untuk memperkuat ekonomi Beltim di luar sektor pertambangan.
Langkah tersebut mulai memasuki tahap penjajakan investasi.
Pada April 2026, perusahaan asal Tiongkok, PT Jin Hai Stainless Steel Group, meninjau kawasan KIAK di Desa Mayang dan Desa Aik Kelik, Kecamatan Kelapa Kampit. Investor juga melihat Pelabuhan Tanjung Keluang sebagai bagian dari potensi akses distribusi. Kawasan yang diproyeksikan untuk pengembangan industri itu disebut memiliki luasan sekitar 881,2 hektare dalam pemberitaan RRI.
Pada September 2026, Kamarudin menyebut investasi di KIAK diproyeksikan dapat membuka hingga 10 ribu lapangan kerja, meskipun proses persiapannya masih menghadapi sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan sesuai aturan.
Di sinilah letak perbedaan antara sekadar mengumumkan pembangunan dan benar-benar menjalankan pembangunan.
KIAK hari ini masih merupakan agenda yang sedang dipersiapkan, bukan proyek yang sudah sepenuhnya selesai.
Tetapi ada sesuatu yang berubah: gagasan yang pernah lama tertunda kini kembali masuk ke meja perencanaan, investasi dan penciptaan lapangan kerja.
MANGGAR PUN MULAI DIBENAHI
Jika KIAK berbicara tentang masa depan ekonomi Beltim, maka Manggar berbicara tentang wajah daerah.
Pada 2025, Pemkab Beltim melakukan revitalisasi kawasan Tugu 1001 Warung Kopi. Pemerintah kemudian merencanakan perubahan fungsi kawasan kantor Camat Manggar lama menjadi kawasan ruang publik yang dikenal sebagai Simpang Lima Manggar.
Kamarudin menyebut gagasan Simpang Lima sebenarnya bukan gagasan yang lahir pada masa pemerintahannya.
Justru ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak seharusnya terjebak pada pertanyaan, “Siapa yang punya ide?”
Baginya, apabila sebuah gagasan baik dan bermanfaat bagi masyarakat, maka pemimpin berikutnya memiliki kewajiban untuk meneruskannya.
Pandangan tersebut menjadi penting dalam membaca pembangunan Beltim.
Pembangunan bukan milik seorang bupati. Pembangunan adalah milik masyarakat.
BUKAN HANYA MANGGAR, EKONOMI BELTIM MULAI BERGERAK
Data pemerintah daerah menunjukkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Belitung Timur pada 2025 tercatat 4,30 persen.
Kemudian pada triwulan II 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat 6,61 persen, dengan pertumbuhan kumulatif sebesar 6,03 persen. Pemerintah daerah menjadikan angka tersebut sebagai pijakan untuk mengejar target pertumbuhan 8 persen.
Angka tersebut tentu belum berarti persoalan ekonomi Beltim telah selesai.
Justru tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan itu diterjemahkan menjadi pekerjaan, pendapatan, investasi dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu pemerintah mendorong pengembangan pertanian, perkebunan, perikanan, industri pengolahan, perdagangan, pariwisata, UMKM dan ekonomi kreatif.
PENDIDIKAN: DARI BELTIM KE PANGGUNG NASIONAL
Salah satu capaian yang menonjol pada periode Kamarudin adalah hadirnya Sekolah Unggul Garuda di Desa Mayang, Kecamatan Kelapa Kampit.
Pada Oktober 2025, Beltim ditetapkan sebagai salah satu lokasi pertama pembangunan Sekolah Unggul Garuda di Indonesia.
Kamarudin ikut mendukung pembangunan tersebut, termasuk menyediakan lahan pribadi seluas 25 hektare serta membantu akses jalan menuju lokasi. Sekolah tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027.
Pada Maret 2026, Kamarudin masih melakukan pemantauan langsung terhadap progres pembangunan yang saat itu disebut baru sekitar 6 persen dan meminta pekerjaan dipercepat agar target operasional dapat tercapai.
Ini menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari masa depan Beltim.
PROGRAM YANG LANGSUNG MENYENTUH MASYARAKAT
Data Pemkab Beltim juga menunjukkan sejumlah program sosial yang meningkat pada 2026.
Beasiswa prestasi meningkat dari 75 penerima pada 2025 menjadi 100 penerima pada 2026.
Bantuan perlengkapan sekolah meningkat dari 679 paket menjadi 750 paket.
Program makanan tambahan bergizi disiapkan sebanyak 19.830 paket untuk 146 siswa di wilayah 3T.
Program kesehatan melalui BPJS gratis yang pada 2025 mencakup 35.111 orang ditargetkan meningkat menjadi 40.094 orang pada 2026.
Renovasi rumah tidak layak huni meningkat dari 91 rumah pada 2025 menjadi target 381 rumah pada 2026.
Bantuan kebutuhan hidup meningkat dari 17 KK menjadi 400 KK.
Bantuan bagi nelayan juga diperluas, termasuk bantuan sembako saat musim angin kencang untuk 500 nelayan, bantuan perahu untuk 17 KUB, serta bantuan bagi UMKM untuk alat produksi.
Pemerintah daerah juga memperluas titik internet desa dari lima menjadi sembilan titik hotspot.
TANTANGAN MASIH BESAR
Namun tulisan tentang pembangunan Beltim tidak boleh berhenti pada daftar capaian.
Masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.
Keterbatasan fiskal menjadi salah satu tantangan utama. Pemerintah daerah sendiri mengakui kemampuan APBD terbatas dan karena itu membutuhkan kolaborasi dengan dunia usaha melalui CSR.
KIAK juga belum sepenuhnya menjadi kawasan industri yang selesai dan beroperasi.
Investasi masih membutuhkan kesiapan lahan, infrastruktur, perizinan dan kepastian hukum.
Begitu pula Simpang Lima Manggar. Ia masih merupakan bagian dari rencana pembangunan kota yang harus diwujudkan secara bertahap.
Artinya, masyarakat tidak hanya membutuhkan janji.
Masyarakat membutuhkan keberlanjutan, kepastian dan hasil yang dapat dilihat.
DARI AHOK HINGGA KAMARUDIN: ESTAFET YANG TIDAK BOLEH PUTUS
Ada satu hal menarik dalam perjalanan pembangunan Belitung Timur.
Pada April 2025, Kamarudin bertemu kembali dengan Ahok dan Basuri dalam perayaan ulang tahun ke-100 nenek mereka di Desa Gantung.
Kamarudin menyebut pertemuan itu sebagai momen yang memberikan inspirasi dan menyatakan dirinya banyak belajar dari dua mantan kepala daerah tersebut untuk membuat Beltim berubah dan masyarakat lebih sejahtera.
Pertemuan itu seperti mempertemukan tiga generasi gagasan pembangunan Beltim.
Ahok dengan gagasan industrialisasi dan KIAK.
Basuri dengan mimpi besar pariwisata, konektivitas, bandara dan marina.
Yuslih dan Burhanudin dengan kelanjutan pemerintahan dan berbagai agenda pembangunan pada periode masing-masing.
Dan kini Kamarudin Muten menghadapi tugas untuk menyambungkan kembali gagasan-gagasan tersebut dengan kondisi Beltim hari ini.
155 TAHUN MANGGAR: BUKAN SOAL SIAPA YANG PALING HEBAT
Hari Jadi Kota Manggar ke-155 seharusnya tidak menjadi panggung untuk mengatakan siapa bupati yang paling berhasil.
Karena setiap zaman memiliki persoalan yang berbeda.
Yang lebih penting adalah melihat apakah satu pemimpin mampu meninggalkan fondasi yang dapat diteruskan oleh pemimpin berikutnya.
Ahok meninggalkan gagasan.
Basuri membawa mimpi konektivitas dan pariwisata.
Yuslih dan Burhanudin melanjutkan roda pemerintahan dan pembangunan pada zamannya.
Kamarudin kini mencoba membawa sejumlah gagasan lama itu kembali ke dalam konteks baru: ekonomi pascatambang, investasi, lapangan kerja, pendidikan berkualitas, UMKM, nelayan, digitalisasi dan wajah baru Kota Manggar.
Di situlah makna pembangunan yang sesungguhnya: bukan mengganti semua yang lama, tetapi mengambil yang baik, memperbaiki yang kurang, kemudian melanjutkannya.
Manggar Bejaye, Belitung Timur Maju Besame
Hari ini, 9 Oktober 2026, Kota Manggar memasuki usia 155 tahun.
Usia yang panjang untuk sebuah kota yang telah melewati zaman pertambangan, perubahan sosial, pergantian pemerintahan dan perubahan arah ekonomi.
Manggar telah melihat banyak pemimpin datang dan pergi.
Tetapi rakyat tetap tinggal.
Anak-anak Beltim tetap tumbuh.
Pedagang tetap membuka kedai.
Nelayan tetap pergi ke laut.
Petani tetap menggarap tanah.
Anak muda tetap mencari masa depan.
Dan karena itu, pembangunan harus kembali kepada mereka.
Bukan sekadar tentang gedung yang tinggi.
Bukan sekadar tentang jalan yang lebar.
Bukan pula sekadar tentang nama siapa yang tertulis di papan proyek.
Melainkan tentang satu pertanyaan sederhana:
Apakah Belitung Timur hari ini lebih baik daripada kemarin, dan apakah yang kita bangun hari ini akan membuat anak-anak kita hidup lebih baik di masa depan?
Jika jawabannya iya, maka estafet pembangunan itu telah menemukan maknanya.
Selamat Hari Jadi Kota Manggar ke-155.
Manggar Bemule.
Manggar Bejaye.
Belitung Timur Maju Besame.
Satu Hati Bangun Negeri.
Sisnet Radio 90.5 FM — Informasi Lokal Belitung Timur



