MANGGAR, SISNET RADIO – Pemerintah Kabupaten Belitung Timur (Beltim) memastikan Program Makanan Tambahan Bergizi (MTB) bagi anak-anak di sejumlah wilayah kepulauan tetap berjalan. Program yang telah dilaksanakan sejak Januari 2026 itu bahkan disiapkan untuk kembali dilanjutkan pada 2027.
Program tersebut menyasar 148 anak PAUD dan sekolah dasar yang tinggal di empat wilayah kepulauan Beltim, yakni Desa Buku Limau, Pulau Long, Pulau Ketapang dan Pulau Batu.
Kepastian keberlanjutan program disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMDPPKB) Beltim, Melta Indah Nurhayati, melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Kemasyarakatan, Penataan, dan Kerja Sama Antar Desa, Dini Triasti Inda Ningsih, saat ditemui Diskominfo SP Beltim, Selasa (6/10/2026).
Menurut Dini, persiapan untuk pelaksanaan tahun 2027 telah dilakukan. Pihaknya bahkan telah menyampaikan surat kepada kecamatan untuk menunjuk koordinator di tingkat desa maupun kecamatan.
“Kalau sampai ini tetap pasti jalan. Karena untuk tahun 2027 pun kami sudah mengirimkan surat ke kecamatan untuk menunjuk koordinator di desa atau kecamatan,” ujar Dini.
148 Anak Menjadi Sasaran
Program MTB tahun 2026 menyasar 148 anak yang tersebar di empat wilayah kepulauan.
Rinciannya, 99 anak di Desa Buku Limau, 18 anak di Pulau Long, 22 anak di Pulau Ketapang dan 9 anak di Pulau Batu.
Jumlah penerima tersebut masih tetap dan belum mengalami perubahan.
Berbeda dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyediakan makanan lengkap, MTB dirancang sebagai tambahan asupan bergizi bagi anak-anak.
Karena itu, paket yang diberikan bukan berupa makanan berat atau nasi. Setiap paket memiliki nilai sekitar Rp10 ribu dan diberikan enam hari dalam sepekan, mulai Senin hingga Sabtu.
Menu yang diberikan antara lain susu UHT plain 110 mililiter, telur rebus serta biskuit atau kudapan lainnya yang diberikan secara bervariasi.
“Ini hanya makanan tambahan bergizi. Kalau makanan nanti akhirnya bentrok dengan MBG,” jelas Dini.
Gelombang Besar Jadi Tantangan Distribusi
Pelaksanaan MTB di wilayah kepulauan tidak selalu berjalan mudah.
Tantangan terbesar justru berada pada proses distribusi bahan makanan dari daratan menuju pulau-pulau penerima.
Kondisi cuaca dan gelombang laut menjadi faktor penting. Ketika kondisi laut tidak memungkinkan kapal berangkat, distribusi makanan tambahan pun terpaksa mengalami penundaan.
Dini mengakui, kondisi tersebut terkadang membuat bahan makanan tidak dapat dikirim selama beberapa hari.
“Kendalanya itu untuk drop barang, distribusi. Apalagi yang pulau-pulau, terhalangnya di situ. Kapal tidak bisa mengirim barang,” ungkapnya.
Kondisi geografis ini membuat pengelola harus menyesuaikan jadwal distribusi dengan keberangkatan kapal dan kondisi cuaca.
Namun, keterbatasan akses tersebut tidak membuat program dihentikan. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terus berupaya agar kebutuhan makanan tambahan bagi anak-anak pulau tetap dapat terpenuhi.
Didukung APBD dan CSR
Pada tahap awal, pelaksanaan program MTB juga pernah mendapatkan dukungan melalui APBD. Namun, anggaran tersebut hanya mampu membiayai sekitar 47 hari pelaksanaan.
Anggaran tersebut berasal dari pergeseran anggaran kegiatan lain yang kemudian diarahkan untuk mendukung program makanan tambahan bagi anak-anak di wilayah kepulauan.
Selanjutnya, keberlanjutan program turut didukung melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) dan bantuan sejumlah pihak.
Beberapa pihak yang disebut ikut mendukung program tersebut antara lain PT Timah, Bank Sumsel Babel dan Forum CSR, selain dukungan dari pemerintah daerah.
“Selama ini awal tahun, sekitar bulan Maret itu dipakai bantuan Pak Bupati, kemudian PT Timah, Bank Sumsel, lalu ke Forum CSR,” kata Dini.
Dengan jumlah penerima mencapai 148 anak, kebutuhan program setiap bulan dapat mencapai puluhan juta rupiah, tergantung jumlah hari pelaksanaan. Perhitungan tersebut dapat berubah menyesuaikan hari libur sekolah maupun hari besar.
Bukan Sekadar Paket Makanan
Bagi anak-anak yang tinggal di pulau-pulau terpencil, keberadaan program MTB bukan hanya persoalan makanan tambahan.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan terhadap pemenuhan asupan gizi anak-anak di wilayah yang memiliki keterbatasan akses transportasi dan distribusi dibandingkan wilayah daratan.
Di tengah tantangan gelombang laut dan keterbatasan kapal, Pemkab Beltim memastikan program tersebut tetap diupayakan berjalan.
Keberlanjutan hingga 2027 diharapkan dapat memberikan kepastian bagi anak-anak penerima manfaat sekaligus memperkuat perhatian terhadap kebutuhan dasar anak-anak yang tinggal di wilayah kepulauan.
Bagi anak-anak di pulau, satu kotak susu, sebutir telur dan makanan tambahan mungkin terlihat sederhana. Namun di balik paket tersebut ada upaya untuk memastikan bahwa jarak dan gelombang laut tidak menjadi penghalang bagi mereka mendapatkan dukungan asupan gizi.
SISNET RADIO – Informasi Lokal Belitung Timur.




